Musibah banjir yang melanda Aceh itu datang tiba-tiba, merendam pemukiman dan area sekitar Ma’had Daarut Tahfizh Al-Ikhlas (MDTI) dalam hitungan jam. Tapi Aktivitas belajar di MDTI tetap berlanjut.
Dalam hal ini Tampak dua santri yang tengah menjalani program Syahadah 30 Juz tetap bertahan menjaga hafalan mereka, Kamis (27/11/2025)
Dengan hujan yang mengguyur deras dan listrik yang tak kunjung menyala tapi proses syahadah 30 Juz tetap berlanjut, satu santri ada di MDTI Intensif dan satunya lagi di MDTI Reguler.
Para ustaz dan warga sekitar menyaksikan keteguhan itu dengan haru. Dalam kondisi listrik padam dan suara hujan yang terus mengguyur, kedua santri ini masih berusaha menyempurnakan hafalan mereka. “Bencana boleh datang, tapi jangan sampai memadamkan semangat,” ungkap salah satu guru yang mendampingi proses syahadah
Di sela upaya warga menata kembali lingkungan yang terdampak, keberadaan dua santri tersebut menjadi inspirasi tersendiri. Ketabahan mereka menunjukkan bahwa ilmu dan iman bukan hanya dipelajari di ruang kelas, tetapi juga ditempa melalui ujian kehidupan. Banjir yang membawa kerusakan justru menghadirkan pelajaran berharga tentang keikhlasan, kesabaran, serta betapa kuatnya cahaya Al-Qur’an ketika dijaga dengan sepenuh hati.
Dipenutupan syahadah, para santri, ustad dan pengurus MDTI dengan penuh haru berdoa bersama untuk Aceh dan sekitarnya yang sedang tertimpa musibah banjir.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik musibah selalu ada hikmah. Pada akhirnya, dua santri tersebut tidak hanya memperjuangkan hafalan 30 juz, tetapi juga memperlihatkan bahwa keteguhan hati dapat menumbuhkan harapan, bahkan di tengah derasnya bencana.